pensas
Membangun Indonesia dengan Pentas

Celoteh Tukang Taksi

Lepas Maghrib, jelang waktu Isa..
Baru sampai di rumah sepulang dari shooting di Bintaro.
Selesai shooting, mampir unttk makan martabak Kubang di Jalan Saharjo Manggarai. Sendirian. Naik taksi yang supirnya terdengar sangat marah kepada pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden SBY. Si Supir merasa tertipu lagi dengan janji-janji gombal kampanye.
Penderitaan dan kepedihan yang dalam sangat jelas terungkap dari obrolan dengan supir taksi itu. (Mungkin, kepedihan dan penderitaan yang sama dengan yang kita semua rasakan?).
“Pemerintahan ini adalah setan”…begitu katanya. ”Lebih baik meledakkan bom dari pada hidup tanpa harapan”… lanjutnya.
Supir taksi terus menceracau,
“Mereka yang mengaku pemimpin itu,hidup hanya untuk menumpuk harta kepemilikan pribadi…. Para perut buncit, diantara si lapar dan si miskin”
Kasihan aku melihat kemarahan supir taksi itu.Tidak ada penyaluran.Jangan-jangan semua penumpangnya menjadi saluran marah dan kepedihannya.
Memang sudah kelewatan rezim ini menguras harta kekayaan Indonesia, (emang punya nenek moyangnya kaleee?).
Mungkin keluhan sisupir taksi adalah keluhan kita semua.

Kepada siapa lagi kita bisa berharap?
Kepedihan tanpa obat
Penderitaan tanpa batas.
Yah sudahlah..

No Responses Yet to “Celoteh Tukang Taksi”

Leave a Reply